SMA Negeri 2 Semarang

Jl. Sendangguwo Baru No. 1 Semarang

Menjadi sekolah yang mengutamakan budi pekerti luhur, unggul dalam prestasi, berwawasan kebangsaan dan lingkungan

Mengatasi Hambatan Diri (Gesek Statis Maksimum)

Rabu, 28 Februari 2018 ~ Oleh Bani Chajar ~ Dilihat 189 Kali

Gaya Gesek Statis dijumpai pada benda yang diam. Sedangkan gaya gesek kinetis dimiliki benda yang bergerak. Keduanya merupakan komponen gaya kontak yang arahnya sejajar bidang permukaan sentuh. Gaya ini muncul ketika dua permukaan benda bersentuhan. Makin kasar permukaan sentuh, makin besar pula gaya gesek yang terjadi.

Gaya gesek statis memiliki nilai lebih besar dibandingkan gaya gesek kinetis. Apalagi gesek statis maksimum. Nilai tersebut mejadi pembatas, seberapa besar dorongan atau tarikan yang diberikan kepada benda agar dapat bergerak dari posisinya. Itu sebabnya ketika kita mendorong mobil mogok (diam) mula-mula terasa berat. Namun setelah dapat bergerak, tenaga yang diberikan untuk mendorong supaya tetap bergerak tidaklah sebesar saat pertama kali mendorong untuk bergerak.

Analogi yang sama dapat kita terapkan pada pikiran kita. Saat pertama kali hendak menulis, umumnya terasa berat. Bahkan untuk beberapa orang yang memang sulit menuangkan apa yang ada dalam pikirannya, aktivitas itu sangatlah berat. Butuh dorongan yang tidak sedikit. Mungkin motivasi kawan, dorongan dari atasan, sampai stimulus barang atau finansial sekalipun kadang tidak selalu berhasil menggerakkan tangan untuk menuliskan apa yang hendak ditulis. Atau ketika dorongan itu ada demikian hebat, justru pikiran kita yang kosong, buntu. Tidak ada sesuatupun yang bida dituangkan menjadi tulisan. Jadinya mandeg, tidak ada output yang dihasilkan.

Sesungguhnya motivasi terbaik berasal dari diri sendiri. Ketika dari dalam diri muncul keinginan sangat kuat, biasanya apapun yang menghambat, akan dilibas habis. Meski kadang banyak rintangan atau masalah dari luar, kalau tekad diri sudah kuat, pasti akan selalu mencari solusi penyelesaian atas semua masalah yang ada. Bahkan terkadang, hal itu justru menjadi tantangan untuk dapat mencapai hasil yang lebih baik dari standard pribadi yang sudah ditetapkan.

Kembali ke analogi gesekan yang dapat kita katakan sebagai penghambat, ketika seseorang sudah mampu mengatasi besarnya hambatan menulis untuk pertama kalinya, atau dengan kata lain dia berhasil menuliskan apa yang ada di otak untuk pertama kalinya, biasanya untuk menghasilkan tulisan selanjutnya tidaklah terlalu berat. Artinya karya-karya berikutnya tinggal menjaga konsistensi mood, agar ide, gagasan, pemikiran, dan/atau apapun yang berkerumun di otak dapat disalurkan menjadi sebuah tulisan.

Dan pisau jika tidak diasah, lama-kelamaan akan tumpul. Untuk itulah jangan berhenti untuk terus belajar. Menggali ilmu dan pengetahuan dari berbagai sumber untuk dikolaborasi dengan ide, gagasan, dan pemikiran kita sehingga tercipta karya berbentuk tulisan yang bermanfaat buat orang banyak.

Selamat berkarya….

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT
...

Drs. Yuwana, M.Kom

Bismillahirrahmanirrahim Asalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh Alhamdulillahirabbil alamin. Sudah sepantasnya kita sebagai manusia harus  selalu bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa Sang…

Selengkapnya

JAJAK PENDAPAT

Bagaimana pendapatmu belajar di SMAN 2 Semarang

LIHAT HASIL