SMA Negeri 2 Semarang

Jl. Sendangguwo Baru No. 1 Semarang

Menjadi sekolah yang mengutamakan budi pekerti luhur, unggul dalam prestasi, berwawasan kebangsaan dan lingkungan

(Me)manfaat(kan) Momentum dan Impuls dalam aktivitas keseharian

Rabu, 28 Februari 2018 ~ Oleh Bani Chajar ~ Dilihat 130 Kali

Dalam ilmu fisika dikenal adanya besaran fisis yang disebut momentum dan impuls. Momentum yang dimaksud disini tentu berbeda dengan momentum yang banyak didengar atau dibaca lewat berita di media massa. Dalam pilkada misalnya, sering kita dengar ucapan : “Inilah momentum yang tepat bagi kita untuk melakukan perubahan. Untuk itulah kami hadir, …..bla….bla….bla….”

Dalam lingkup fisika makro, momentum berarti massa yang bergerak. Syarat keterpenuhan momentum adalah, adanya benda/zat bermassa (memiliki jumlah materi) dan berada dalam kondisi bergerak (memiliki kecepatan tertentu). Jika benda diam, maka dikatakan tidak memiliki momentum. Atau momentumnya nol.

Momentum benda kadang dapat berubah, baik nilai maupun arahnya. Umumnya terjadi ketika benda tersebut mengalami tumbukan, hantaman, atau ledakan. Ketika terjadi perubahan momentum inilah muncul besaran fisis yang disebut impuls. Jadi impuls pada hakekatnya merupakan perubahan momentum. Pada saat terjadi tumbukan, ada gaya tertentu yang bekerja dalam waktu yang sangat singkat. Karena tumbukan atau ledakan terjadi dalam rentang waktu yang amat singkat, maka gaya yang bekerja menjadi sangat besar. Keduanya (gaya dan waktu) berbanding terbalik dalam konfigurasi persamaan fisis impuls sebagai perubahan momentum.

Hal inilah yang mendasari mengapa kita sebaiknya memakai sepatu saat bermain sepakbola atau futsal. Tujuannya agar waktu sentuh antara kaki dan bola menjadi lebih lama. Efeknya kaki tidak terlalu sakit karena gaya sentuh yang terjadi tidak terlampau besar. Demikian pula petinju diharuskan menggunakan sarung tangan, agar efek gaya dari pukulan yang menghantam kepala dapat sedikit berkurang jika dibandingkan pukulan tangan kosong. Hal ini pula yang menyebabkan banyak petinju yang menderita parkinson di masa tuanya. Karena memang efek pukulan yang mendera kepala dalam frekuensi yang cukup banyak dan rentang waktu selama profesi bertinju ditekuni. Sama dengan petarung MMA (Mix Martial Art) yang juga harus mengenakan sarung tangan, atau lapangan senam ritmik yang dilapisi matras (karet) agar keamanan dan keselamatan atltet senam dapat lebih terjaga dari benturan.

Kebalikannya untuk atlet karate, umumnya dianjurkan sesegera mungkin menarik tangan sesaat setelah memukul badan lawannya. Tujuannya adalah memberikan efek gaya pukul yang besar dengan mempersingkat waktu kontak (sentuh) tangan dengan badan lawan. Akibatnya lawan dapat lebih cepat tersungkur (kalah) karena efek serangan yang dilancarkan.

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT
...

Drs. Yuwana, M.Kom

Bismillahirrahmanirrahim Asalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh Alhamdulillahirabbil alamin. Sudah sepantasnya kita sebagai manusia harus  selalu bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa Sang…

Selengkapnya

JAJAK PENDAPAT

Bagaimana pendapatmu belajar di SMAN 2 Semarang

LIHAT HASIL