SEKILAS INFO
: - Selasa, 20-10-2020
  • 8 bulan yang lalu / Agama tanpa ilmu pengetahuan adalah buta. Dan ilmu pengetahuan tanpa agama adalah lumpuh

Oleh: Khairuna Marsya *

Suara mesin-mesin kapal yang siap berlabuh selalu menjadi pasangan manis bagi pagi yang semilir di Pelabuhan Tanjung Mas, Kecamatan Semarang Utara, Kota Semarang. Mengantarkan anak-anak mulai bersiap untuk mengikuti pembelajaran daring di rumah masing-masing. Dari riuh anak-anak Tanjung Mas yang bersiap untuk belajar, tampak gadis manis yang tengah menggendong bayi. Namanya Bintang (bukan nama sebenarnya) yang berumur 15 tahun. Berbeda dengan anak remaja lainnya yang setiap pagi menggendong tas untuk pergi sekolah, ia justru menimang-nimang anak kecil. Anak tersebut bukan adiknya, melainkan darah dagingnya.

Bintang adalah potret anak di daerah Tanjung Mas yang kehilangan kesempatan belajar karena berbadan dua saat masih menjadi seorang pelajar. Padahal, esensi sebuah sekolah adalah untuk membangun moral bangsa, bukan untuk meruntuhkannya. Selama ini, kawasan Tanjung Mas memang dikenal sebagai daerah slum area dengan tingkat partisipasi sekolah yang rendah. Dinas Pendidikan Kota Semarang (2014: 152) mengungkapkan bahwa Kecamatan Semarang Utara memiliki Angka Partisipasi Kasar (APK) dan Angka Partisipasi Murni (APM) yang rendah pada jenjang pendidikan SD dan SMP jika dibandingkan rata-rata daerah lain di Kota Semarang. Data tersebut mampu menjelaskan bahwa anak-anak di daerah Tanjung Mas kurang berpartisipasi dalam memperoleh pendidikan. Orang tua mereka pun belum menyadari bahwa pendidikan sangatlah penting bagi masa depan anak- anaknya.

Namun, kondisi tersebut perlahan mulai berubah. Warga Tanjung Mas tahu bahwa mereka tidak ingin ada Bintang-Bintang lainnya yang bernasib sama. Mereka juga sudah mulai sadar bahwa anak-anaknya harus memperoleh pendidikan agar menjadi orang terpandang di masa yang akan mendatang. Sejak tahun 2015, jumlah anak-anak yang memperoleh pendidikan semakin bertambah. Banyaknya murid di Kecamatan Semarang Utara menurut BPS (2016) sebagai berikut:

Tabel Jumlah murid yang memperoleh Pendidikan pada tahun 2015

Jenjang PendidikanTKSDSMPSMA
Jumlah2150818778957275

Beberapa hal yang telah dilakukan untuk menciptakan bintang emas yaitu adanya Rumah Pintar (Rumpin) Patra Sutera bagi anak usia 4-6 tahun. Ide ini dicetuskan oleh Galuh Iva Ramadhani dari Universitas Negeri Semarang. Ia mencetuskan ide ini dengan tujuan meningkatkan layanan pendidikan di daerah yang sulit terjangkau oleh pendidikan untuk memberdayakan potensi masyarakat di lingkungan sekitar. Rumpin Patra Sutera ini dapat membantu anak-anak belajar membaca tanpa harus mengeluarkan biaya. Membaca merupakan aktivitas yang sangat menguntungkan. Bagaimana tidak, dengan membaca kita bisa mendapat banyak hal, seperti memperlancar anak- anak usia 4-6 tahun dalam membaca, memperoleh kosakata baru, dan terutama mendapatkan wawasan. Seperti kata pepatah, buku adalah jendela dunia. Sehingga, dengan adanya Rumah Pintar ini, anak-anak Tanjung Mas diharapkan memiliki wawasan yang luas. 

Tidak hanya itu saja, di daerah ini juga ada upaya untuk meningkatkan pendidikan agama. Salah satunya datang dari Taman Pendidikan AlQuran (TPQ) Nurul Qoyyimah. TPQ yang beroperasi setiap hari ini barangkali dapat menjadi tempat untuk memperbaiki moral anak-anak disana. Biayanya pun cukup murah, hanya dengan membayar buku paraf mengaji seharga Rp2000,00 dan infaq seikhlasnya pada hari Kamis, anak muda bisa memperbaiki moral yang tadinya miris menjadi lebih agamis.

Selain itu, Tanjung Mas memiliki organisasi Pokdarkamtibmas (Kelompok Sadar Ketertiban Masyarakat) beranggotakan para laki-laki dewasa yang sudah menikah dan memiliki buah hati. Setiap malam minggu, mereka melakukan patroli ke tempat-tempat yang sering dikunjungi para remaja untuk nongkrong dengan teman-temannya. Tidak sedikit anak yang kedapatan minum-minuman keras, berpacaran hingga melewati batas, dan melakukan hal-hal diluar usia mereka. Organisasi ini akan membina anak- anak yang terkena razia dan mengembalikannya ke orang tuanya. Cara ini mampu membuat para anak muda yang terjaring razia merasa jera, sehingga mereka memiliki kesadaran untuk mentaati semua peraturan yang telah ada.

Cara yang terakhir yaitu, sudah banyak orang tua yang melarang putra putrinya untuk pergi di malam hari bersama teman- temannya. Seperti halnya ungkapan dari Pak Jono (50 tahun) warga asli daerah Tanjung Mas yang merupakan  ayah dari dua putri. “Menjadi seorang ayah yang memiliki dua anak perempuan membuat saya harus bekerja ekstrauntuk menjaga kedua putri saya agar tidak terjerumus ke dalam jurang-jurang kemaksiatan,” ujar Pak Jono. Ketika saya wawancarai, ia juga menambahkan bahwa dunia malam sangat membahayakan bagi mereka. Memang benar adanya, memiliki anak perempuan adalah suatu tanggung jawab yang besar bagi seorang ayah untuk selalu menjaganya. Lengah sedikit akan menimbulkan berbagai masalah. Pergi  bebas tanpa pengawas. Itulah yang diinginkan mereka. Tanpa pikir panjang, apalagi dampak yang akan didapat. Terkadang, anak- anak remaja salah dalam mempersepsikan ucapan orang tuanya. Mereka akan menganggap bahwa orang tuanya tidak sayang, tidak kekinian, mengekang, dan merenggut kebebasannya di masa muda. Padahal, yang diucapkan orang tua mereka adalah sebuah bentuk perhatian dan memiliki makna tersirat. Berpikir panjang sebelum bertindak, itulah mereka. Dengan adanya cara-cara tersebut, saat ini banyak dijumpai anak Tanjung Mas sudah mulai memiliki semangat belajar untuk bisa keluar dari jurang-jurang permasalahan yang ada. Si kembar yang bernama Zahra Afiatul Riska dan Zahra Afiatul Riski yang berumur  10 tahun contohnya. Mereka adalah pelajar di SD Kusuma Bakti yang tengah duduk di bangku kelas 5. “Kondisi ekonomi tidak menghambat anak untuk terus sekolah”. Seperti halnya cerita dua bocah menggemaskan itu. “Aku dan saudara kembarku ingin menjadi polwan,” kata anak manis itu. Meskipun orang tuanya hanya seorang buruh, tidak membuat mereka berhenti untuk bermimpi.

Kerja kelompok materi permainan bola basket
Anak-anak yang mengikuti pembelajaran kelompok

Menurut mereka keadaan dan nasib bukan menjadi penghalang mereka untuk terus menuntut ilmu. Tidak hanya pembelajaran kelompok, setiap malam hari mereka selalu berboncengan mengendarai sepeda menuju ke tempat bimbel. Tak menghiraukan hari libur, si kembar dan teman-temannya  tetap belajar bersama di rumahnya. Selain rajin dalam sekolah, mereka juga taat akan agama. Setiap sore hari, anak 10 tahun itu belajar mengaji di sebuah TPQ bersama teman-temannya. Ia juga mengungkapkan bahwa cara untuk menuju kesuksesan yaitu dengan rajin belajar, taat beribadah, serta mempunyai semangat juang yang tinggi.

Akses dan kesempatan memang harus dicari bukan hanya duduk manis menunggu keberuntungan bak durian runtuh. Itulah hal yang saya potret dari keadaan anak-anak Tanjung Mas. Akses dan kesempatan itu bisa datang dari pemerintah. Banyak anak yang sudah mendapatkan Kartu Indonesia Pintar (KIP). Mereka memanfaatkan KIP untuk meringankan beban orang tua. Lebih lanjut, seperti Si Kembar dan teman-temannya, KIP dapat terus ada hingga kuliah nanti. Mereka berjanji akan membalas kebaikan adanya KIP itu dengan belajar sungguh-sungguh dan meraih cita-cita. Setelah itu, mereka akan membagikan kebahagiaan itu ke warga Tanjung Mas lainnya. Pemerintah Kota Semarang pun juga gencar memberikan bantuan. Baik bantuan sosial maupun bantuan pendidikan. Bantuan itu menjadi pemantik agar anak-anak dan warga desa mau untuk mencari kesempatan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan dan mengakses pendidikan yang layak. Dengan adanya kolaborasi dari warga, pemerintah kota, pemerintah pusat diharapkan mampu mencetak Bintang Emas yang mampu bersinar di Tanjung Mas.

*Penulis merupakan siswa SMAN 2 Semarang kelas XI MIPA 9 dan warga Tanjung Mas Kota Semarang.

TINGGALKAN KOMENTAR

Blog Guru

Agustus 2020
S S R K J S M
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31