SEKILAS INFO
: - Selasa, 20-10-2020
  • 8 bulan yang lalu / Agama tanpa ilmu pengetahuan adalah buta. Dan ilmu pengetahuan tanpa agama adalah lumpuh

Oleh: Cindy Rahma Aulya*


Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo bersama siswa-siswi dan warga Desa Wringinjajar dalam kunjungan kerja di Kabupaten Demak, Kamis 28/2/2019
Sumber: Modusinvestigasi.com

“Pendidikan bukanlah sesuatu yang diperoleh seseorang, tapi pendidikan adalah sebuah proses seumur hidup!”

Kutipan Gloria Steinem adalah pemantik kaum pelajar untuk terus belajar. Bisa dibilang, jika itu dilaksanakan, maka dunia dalam genggaman. Namun, bagi sebagian anak di Desa Wringinjajar, Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak, itu hanyalah kata yang hampir mustahil untuk dikejar.

Di tengah pesatnya kemajuan peradaban yang menuntut setiap orang meraih pendidikan setinggi-tingginya, ada saja anak negeri yang masih kikuk tak berdaya. Demikianlah yang terjadi pada anak-anak di Desa Wringinjajar. Bagi mereka, hanya cukup menjadi penonton orang-orang yang sibuk belajar untuk membangun negara. Semangat menimba ilmu runtuh dan pendidikan tidak lagi diprioritaskan. Materi pelajaran yang membuat pusing pikiran, memberi trauma tersendiri bagi anak-anak itu jika harus lanjut di dunia perkuliahan. Bahkan, ada juga yang memberanikan diri naik ke pelaminan. Entah itu keinginan sendiri atau orang tua yang memaksakan.  Memang, desa-desa di Kecamatan Mranggen kurang peduli soal pendidikan. Hal itu dibuktikan bahwa pada tahun 2015, terdapat lebih dari 20.000 anak yang tidak tamat sekolah (Statistik Daerah Kecamatan Mranggen, 2016).

“Lelah belajar” mungkin begitulah yang anak-anak itu rasakan. Namun, apabila kita telisik lebih lanjut, apa yang mereka rasa tidak sepenuhnya salah dan juga tidak sepenuhnya benar. Salah, karena sejatinya belajar adalah bagian dari proses kehidupan. Seperti pepatah mengatakan, tuntutlah ilmu dari buaian hingga ke liang lahat. Benar, karena mereka juga pernah merasakan beban dimana pembelajaran selalu menuntut pencapaian nilai yang tidak sesuai dengan kemampuan. Belum lagi mereka yang bersekolah swasta dan terhambat biaya. Tampaknya itulah yang membuat mereka membangun opini bahwa kuliah hanya untuk mereka yang mendapat nilai A. Kuliah hanya bagi mereka yang terlahir dari keluarga yang berada.

Beruntung, adanya semangat merdeka belajar menjadi penyelamat bagi pola pikir mereka. Sebuah gebrakan “Merdeka Belajar” membuka mata bagi semua orang bahwa pintar bukanlah diukur dari seberapa tingginya nilai, melainkan bagaimana kita melihat potensi diri dengan lihai. Adanya gebrakan itu, menumbuhkan kembali semangat belajar bagi mereka-mereka yang tadinya putus asa karena terhimpit biaya.

Perlahan namun pasti, warga dan Pemerintah Desa Wringinjajar telah berkolaborasi mendukung pengimplementasian program merdeka belajar yang telah dicanangkan pemerintah akhir-akhir ini. Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang diberikan kepada sekolah-sekolah, seperti SDN Wringinjajar 1 dan SDN Wringinjajar 3, SMPN 1 Mranggen, SMPN 2 Mranggen, SMPN 3 Mranggen, SMAN 1 Mranggen, dan SMAN 2 Mranggen mampu memberikan kesempatan dan akses kepada anak-anak Desa Wringinjajar untuk belajar daring dan bersekolah. Pembagian kuota melalui dana BOS pun juga sudah dilaksanakan dengan baik.

Selain sekolah negeri, sekolah swasta pun juga tak kalah ambil bagian. Salah satunya yaitu pembangunan fasilitas sekolah swasta yang semakin marak terjadi. Yayasan Al-hamidiyyah misalnya. Yayasan swasta yang terdiri dari tingkat TPQ hingga SMK ini, sedang gencar-gencarnya membangun sarana pembelajaran guna mendukung pengetahuan. Bukan hanya agama saja yang dikedepankan, tetapi yayasan ini juga betul-betul memperhatikan kualitas serta kemampuan siswa-siswinya dalam hal pengetahuan. Barangkali dengan upaya ini, persepsi yang telah mengakar di masyarakat Wringinjajar bahwa orang yang belajar agama akan ketinggalan zaman, dapat dihilangkan.

Kali ini upaya datang dari pemerintah desa. Tanpa diduga, mereka telah menyediakan tempat bagi anak muda untuk menyalurkan minat dan bakat. Lewat sebuah web resmi desa yang beralamat http://wringinjajar.desa.id/sd/, anak-anak dapat menuangkan pemikiran melalui sebuah karya dalam bentuk tulisan. Tidak itu saja, di sore hari halaman balai desa disulap menjadi tempat latihan drumband, voli, dan pencak silat. Pendopo balai desa pun seringkali digunakan oleh anak-anak TK untuk belajar. Pemerintah Desa Wringinjajar melalui dana desa juga membangun fasilitas lapangan sepak bola untuk latihan sekolah sepak bola desa yang bernama Sekolah Sepak Bola Power Muda Wringinjajar. Dengan adanya fasilitas olahraga tersebut, anak-anak dan pemuda desa dapat menyalurkan hobi mereka ke hal-hal yang positif. Hal ini membuat pemaknaan merdeka belajar tidak hanya pada kemerdekaan olah pikir, tetapi juga olah raga dan olah rasa.


Poster Sekolah Sepak Bola Power Muda Wringinjajar
Sumber: Dokumentasi penulis

Gebrakan-gebrakan tersebut secara tidak langsung menumbuhkan kembali semangat belajar anak-anak di Desa Wringinjajar. Sejalan dengan hal itu, pada tahun 2018, di Kecamatan Mranggen telah ada 5.706 penduduknya yang berpendidikan S-1 (Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Demak, 2019).  Di antara 5.706 itu ada anak-anak Desa Wringinjajar yang ikut mengenyam pendidikan S-1. Tentu, pencapaian itu patut dijadikan motivasi. Dengan bakat dan kemampuan masing-masing, mereka mulai berkarya meraih prestasi. Alhasil, semangat untuk lepas dari tabunya pendidikan mulai bermunculan. Entah itu dengan jalan penuh perjuangan ataupun tanpa rintangan.

Terkadang kita tidak menyadari, bahwa berharganya pendidikan terletak pada kerasnya perjuangan.

Seperti halnya cerita dari Alina. Semangat belajarnya di tengah pandemi tanpa tersedianya teknologi yang memadai, menyentak kita yang telah diberi kemudahan akses belajar malah sibuk mengeluh dan lupa mencari solusi agar paham materi. Anak berusia 10 tahun yang masih duduk di kelas 6 itu tiap pagi datang ke rumah sepupunya untuk meminjam handphone demi mengikuti pembelajaran daring. “Semua teman saya punya HP, cuma saya yang tidak punya. Kalau pinjam HP Bapak, itu tidak bisa digunakan untuk belajar daring,” kata Alina ketika ditanya keluhan belajarnya di masa pandemi. Kepada saya, anak yang punya senyum manis itu mengatakan bahwa dirinya bercita-cita menjadi seorang guru, agar dapat mencerdaskan murid-muridnya kelak.

Semangat itu tidak hanya muncul dari anak-anak saja. Para orang tua dari mereka pun sudah mulai mengerti betapa pentingnya pendidikan. Bu Anis (30 tahun) misalnya, walaupun keluarganya dikenal taat dalam agama, tidak lantas membuat Bu Anis acuh terhadap pendidikan anak-anaknya. “Pendidikan itu sangat penting, terlebih lagi menuntut ilmu sampai perguruan tinggi,” kata ibu satu anak ini, saat diwawancarai di kediaman saudaranya. Kepada saya, beliau menuturkan bahwa bagaimanapun kondisinya, kita harus berupaya sekuat tenaga untuk mendapat pendidikan setinggi-tingginya. Beliau juga mengungkapkan bahwa esensi pendidikan merupakan kunci bagi kehidupan.

Kita sering lupa, bahwa semangat, minat, dan bakat adalah kekuatan utama yang mampu mengantar seseorang menuju gerbang kesuksesan. Begitu pun anak-anak di Wringinjajar yang dengan semangat merdeka belajar, mereka hilangkan persepsi negatif tentang pengetahuan. Dengan semangat merdeka belajar, mereka lewati segala batas keniscayaan dalam meraih pendidikan dan bersiap membangun peradaban.

Pada akhirnya, keberhasilan hanya akan datang kepada mereka yang berhasil keluar dari kelirunya pemikiran dan masih tetap berjuang di tengah keterbatasan.

*Penulis merupakan siswa SMAN 2 Semarang kelas XI MIPA 6 dan warga Desa Wringin Jajar, Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak

TINGGALKAN KOMENTAR

Blog Guru

Agustus 2020
S S R K J S M
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31