SEKILAS INFO
: - Selasa, 20-10-2020
  • 8 bulan yang lalu / Agama tanpa ilmu pengetahuan adalah buta. Dan ilmu pengetahuan tanpa agama adalah lumpuh

Pada awal Maret 2020, tercatat kasus pertama Covid-19 di Indonesia, dan angka ini terus bertambah hingga sekarang. Hal ini tidak terlepas dari tingkat penyebaran virus corona yang begitu cepat. Selain itu, kesadaran masyarakat mengenai bahaya virus ini juga masih rendah, sehingga Pemerintah terpaksa membatasi berbagai kegiatan masyarakat melalui seperangkat kebijakan. Salah satu imbas dari kebijakan tersebut, pada bulan ini juga, seluruh sekolah di Indonesia tidak boleh dibuka sehingga kegiatan pembelajaran harus dialokasikan menjadi pembelajaran jarak jauh (PJJ). Hal ini juga dilakukan di SMA Negeri 2 Semarang, dimana kegiatan pembelajaran dilakukan secara daring. Akan tetapi, adanya mekanisme ini menyebabkan peserta didik tidak dapat mengikuti kegiatan non-akademis yang biasanya dilaksanakan di sekolah, seperti kegiatan ekstrakurikuler. Akibatnya, sebagian besar ekstrakurikuler harus dihentikan karena tidak memungkinkan untuk dilaksanakan dalam masa pandemi. Padahal, adanya ekstrakurikuler ini penting bagi pengembangan bakat minat serta potensi pada peserta didik.

Masalah yang sama juga terjadi pada seluruh ekstrakurikuler di SMA Negeri 2 Semarang, termasuk Kombatsmanda yang merupakan ekstrakurikuler di bidang bahasa dan terdiri atas dua divisi, yaitu divisi retorika dan divisi pengembangan sumber daya kreativitas (PSDK). Pelaksanaan PJJ menyebabkan ekstrakurikuler ini tidak dapat melaksanakan pertemuan rutin di sekolah, sehingga memunculkan berbagai kendala pada anggota Kombatsmanda. Berdasarkan hasil rapat pengurus Kombatsmanda yang dilaksanakan pada hari Minggu, 10 Juni 2020, dapat dirumuskan bahwa kendala yang muncul adalah 1) Anggota Kombatsmanda ingin berprestasi, 2) Peserta didik kesulitan dalam mencari pembimbing, 3) Pertemuan rutin Kombatsmanda belum terkoordinir.

Kendala pertama yang dihadapi oleh anggota Kombatsmanda adalah adanya keinginan untuk tetap berprestasi meskipun dalam masa pandemi. Namun, karena terbatasnya komunikasi dan interaksi mengakibatkan peserta didik cenderung memilih untuk tidak mengikuti lomba. Hal ini juga tidak terlepas dari kendala kedua, dimana peserta didik mengalami kesulitan dalam mencari pembimbing sehingga mereka takut untuk menuangkan gagasan atau ide yang dimiliki. Selain itu, adanya kendala ketiga yaitu pertemuan rutin secara daring yang belum terkoordinir juga menjadi faktor utama penyebab kurang produktifnya anggota Kombatsmanda. Oleh karena itu, penulis memberikan alternatif berupa program “KUY”.

Dalam bahasa gaul, kata “KUY” sering diartikan dengan “ayo”. Artinya, kegiatan ini mengajak para anggota Kombatsmanda untuk tetap berprestasi dalam keadaan apapun, termasuk dalam situasi pandemi seperti saat ini. Bila ditinjau dari setiap katanya, “KUY” juga memiliki makna lain. Huruf “K” berarti “Kolaboratif”, yaitu Kombatsmanda melakukan kolaborasi dengan para alumni dalam melaksanakan berbagai kegiatannya. Beberapa contoh penerapan prinsip kolaboratif ini adalah pelaksanaan webinar, pelaksanaan kegiatan latihan debat, hingga bimbingan penulisan oleh alumni, yang semua kegiatannya dilaksanakan secara daring. Selanjutnya, huruf “U” berarti “Utilitarian”, artinya seluruh kegiatan yang dilaksanakan akan memberikan manfaat bagi anggotanya. Dalam penerapan prinsip ini, Kombatsmanda juga mengutamakan sikap saling tolong-menolong antar anggota, alumni, dan pembina. Penerapan prinsip ini sebenarnya sudah dilakukan sejak dulu dimana para alumni sering kali memberikan bimbingan kepada para anggota, dan kakak kelas yang membantu adik kelas dalam mempersiapkan lomba. Penerapan prinsip utilitarian dalam masa pandemi ini juga dilakukan secara daring melalui berbagai media seperti WhatsApp ataupun Meet. Adapun huruf “Y” memiliki arti “Yakin”, yaitu anggota Kombatsmanda tidak berhenti hanya dengan mendapatkan bimbingan dan pengajaran saja, namun juga mampu diaplikasikan dalam perlombaan, sebab ada banyak lomba yang diselenggarakan dan dapat diikuti oleh peserta didik meskipun dalam masa pandemi seperti ini. Beberapa lomba yang sudah diikuti oleh anggota Kombatsmanda diantaranya adalah LDBI 2020, Lomba Debat UNRI, Lomba debat Piala Walikota 2020, KOPSI, hingga FKSI.

Adanya program “KUY” ini, mampu meningkatkan antusias anggota Kombatsmanda dalam mengikuti berbagai agenda yang direncanakan, serta meningkatkan motivasi dalam mengikuti berbagai jenis perlombaan meskipun dalam masa pandemi ini. Diharapkan juga agar adanya program “KUY” mampu meningkatkan komitmen anggota Kombatsmanda terhadap berbagai tanggung jawab yang dimiliki dalam ekstrakurikuler ini.

TINGGALKAN KOMENTAR

Blog Guru

September 2020
S S R K J S M
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930