
Mari kita jujur.
Coba lihat saat upacara hari Senin, apel pagi, atau ketika pagi hari sebelum pelajaran dimulai.
Lagu Indonesia Raya berkumandang.
Musiknya keras.
Semua berdiri tegak.
Sikap sempurna.
Tapi apa yang terdengar?
Hanya musik. Mulut kita diam. Kita hanya mendengarkan.
Ini adalah salah satu efek nyata dari pandemi COVID-19 tahun 2019.
Kita masih ingat, selama hampir 3 tahun, aturannya jelas:
“Dilarang menyanyi bersama, dilarang membuka masker, cukup mendengarkan saja.”
Alasannya kesehatan, agar droplet tidak menyebar.
Aturan itu benar pada saat itu.
Tapi efeknya ternyata masih terasa sampai sekarang.
Virusnya sudah hilang, tetapi kebiasaannya tertinggal.
Sekarang tahun 2026. Masker sudah lepas, tetapi mulut kita masih terkunci.
Guru tidak menyanyi, hanya berdiri.
Murid tidak menyanyi, hanya diam.
Kita berdiri untuk Indonesia Raya, tetapi kita tidak menghadirkan jiwa kita untuk Indonesia Raya.
Kita hanya menjadi pendengar di rumah kita sendiri.
Jika hanya mendengarkan, kita adalah penonton.
Jika menyanyi, kita adalah pelaku.
Saat kita menyanyikan “Indonesia tanah airku…”, kita sedang mengulang semangat dan ikrar kebangsaan yang terkandung dalam lagu ciptaan W.R. Supratman.
Kita menyatakan kesetiaan kepada tanah air.
Masa berjanji hanya dalam hati?
Janji harus diucapkan dengan lantang!
Anak yang cinta pada ibunya tidak hanya mendengarkan ibunya bernyanyi, tetapi ikut bernyanyi bersama.
Begitu pula dengan rasa nasionalisme.
Rasa nasionalisme tidak hanya tumbuh dari telinga, tetapi juga dari dada dan tindakan kita.
Getaran dari tenggorokan kita saat menyanyikan “Bangunlah jiwanya…” itulah yang membangunkan jiwa kita yang mungkin tertidur oleh HP dan kemalasan.
Mohon maaf Bapak/Ibu Guru.
Jika kita sebagai guru di barisan depan hanya berdiri mematung, mulut tertutup, apa yang akan ditiru murid?
Murid akan berpikir:
“Oh, menyanyi itu tidak penting. Yang penting berdiri saja.”
Padahal keteladanan dimulai dari contoh.
Keteladanan itu bukan hanya dari sikap berdiri, tetapi juga dari suara guru yang lantang dan penuh semangat.
Untuk itu, mulai hari ini di SMA Negeri 2 Semarang, mari kita kembalikan marwah menyanyikan lagu kebangsaan.
Tolong, nyanyikan.
Jangan malu kalau suaranya fals.
Jangan takut kalau suaranya keras.
Murid tidak membutuhkan suara yang merdu.
Mereka membutuhkan contoh keberanian.
Jadilah dirigen pertama di depan kelas mereka.
Mari menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan lantang.
Angkat kepalamu.
Buka mulutmu.
Keluarkan suaramu.
Jangan hanya berdiri.
Bernyanyilah untuk Indonesia. 🇮🇩
Jangan lagi memutar audio full vokal yang terlalu keras sehingga suara kita sendiri kalah.
Putarlah musik instrumental saja.
Biarkan yang terdengar adalah suara kita.
Suara warga SMA Negeri 2 Semarang.
Mulai Senin depan, di SMA Negeri 2 Semarang, tidak ada lagi yang hanya mendengarkan Indonesia Raya.
Karena kita bukan bangsa pendengar.
Kita adalah bangsa pejuang yang berani menyanyikan tanah airnya dengan penuh rasa cinta, pengorbanan, dan penghormatan.
Tinggalkan Komentar