
Kategori: Kesehatan / Lingkungan
Tanggal: 8 Oktober 2026
Indonesia sedang menghadapi tiga krisis pernapasan sekaligus di musim kemarau 2026. Lonjakan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) mencapai dua kali lipat, kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyelimuti Sumatera dan Kalimantan, dan virus Influenza A melonjak hingga 46 persen. Ini bukan lagi persoalan musiman biasa, tapi ancaman kesehatan publik yang saling memperparah.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat kasus ISPA melonjak drastis sejak pekan ke-27 hingga ke-35 tahun 2026, menembus lebih dari 400.000 kasus per minggu. Angka ini dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun 2025.
“Memasuki awal musim kemarau tahun 2026, kasus ISPA menunjukkan tren peningkatan lebih dari 400 ribu kasus per minggu, dibandingkan dengan minggu yang sama pada tahun 2025,” kata Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes, Aji Muhawarman.
Provinsi dengan kasus tertinggi per 15 Agustus 2026 adalah Jawa Barat dengan 1.858.779 kasus, disusul Jawa Tengah 1.819.793 kasus, dan DKI Jakarta 1.241.791 kasus.
Penyebabnya kombinasi udara kering, debu beterbangan, dan daya tahan tubuh menurun saat pancaroba. Anak-anak dan balita paling rentan karena saluran napasnya masih sempit dan imun belum kuat.
Bersamaan dengan kemarau, karhutla di Sumatera Selatan, Riau, Jambi, dan Kalimantan membuat kualitas udara mencapai level berbahaya.
Data terkini:
Apa Itu PM2.5?
PM2.5 (Particulate Matter 2.5) adalah partikel udara berukuran sangat halus dengan diameter kurang dari 2,5 mikrometer atau sekitar 30 kali lebih kecil dari rambut manusia.
Karena ukurannya yang super kecil, PM2.5 tidak bisa disaring oleh rambut hidung dan tidak bisa dikeluarkan oleh lendir (mukus) di saluran pernapasan. Itulah yang membuatnya berbahaya.
PM2.5 berasal dari dua sumber utama:
Di Indonesia, sumber PM2.5 paling dominan saat musim kemarau adalah karhutla, terutama dari lahan gambut di Sumatera dan Kalimantan yang terbakar.
Kenapa PM2.5 Berbahaya untuk Pernapasan?
1. Menembus hingga ke alveolus
Partikel ini mampu menembus hingga ke kantong paru-paru (alveolus) tempat pertukaran gas terjadi. Jika menumpuk, alveolus akan mengalami peradangan kronis.
2. Masuk ke aliran darah
PM2.5 juga bisa menembus dinding alveolus dan masuk ke pembuluh darah kapiler, lalu menyebar ke seluruh tubuh termasuk jantung, otak, dan ginjal.
3. Risiko kesehatan yang ditimbulkan
Paparan jangka pendek dan panjang dapat menyebabkan ISPA, bronkitis, pneumonia, asma kambuh dan PPOK, kanker paru-paru, penyakit jantung koroner dan stroke, serta komplikasi pada kehamilan.
WHO menetapkan batas aman PM2.5 hanya 15 µg/m³ per 24 jam dan 5 µg/m³ per tahun. Saat kabut asap di Palembang mencapai 903,6 µg/m³, itu setara 60 kali lipat di atas batas aman WHO.
Menurut pakar paru Universitas Airlangga, paparan PM2.5 yang lama dan berulang dapat menyebabkan penurunan fungsi paru, memperberat asma dan PPOK, serta meningkatkan risiko penyakit paru kronis.
Bagi anak, risikonya 10 kali lebih berbahaya karena komposisi kimia PM2.5 dari asap kebakaran hutan memiliki potensi oksidasi dan pro-inflamasi yang lebih tinggi dibanding PM2.5 dari sumber lain.
Tabel Kategori PM2.5 Berdasarkan ISPU
Kategori Rentang PM2.5 (µg/m³) Kondisi
Baik 0-15 Tidak ada efek kesehatan
Sedang 16-65 Mulai terasa pada kelompok sensitif
Tidak Sehat 66-150 Berbahaya untuk anak, lansia, dan penderita asma
Sangat Tidak Sehat 151-250 Semua orang bisa merasakan dampaknya
Berbahaya >250 Darurat kesehatan, semua orang berisiko
3. Influenza A Melonjak, Dominan H1N1pdm09
Surveilans Kemenkes menunjukkan proporsi spesimen positif influenza naik dari 35 persen menjadi 46 persen pada minggu ke-36 (per 19 September 2026). Dari 185 spesimen, 86 positif: 76 kasus influenza A (H1N1)pdm09, 8 kasus A(H3N2), dan 2 kasus influenza B/Victoria.
Kelompok usia 0-4 tahun mendominasi dengan porsi 42 persen, menandakan anak kecil adalah kelompok paling rentan.
Meski demikian, Kemenkes menegaskan aktivitas influenza masih dalam kategori rendah dan sesuai pola musiman. Virus dominan adalah Influenza A (H1N1)pdm09, bukan varian H3N2 Subclade K yang sempat disebut “Super Flu”. Kasus Subclade K justru lebih rendah pada 2026 (hanya 22 temuan, dibanding 166 pada 2025).
Gejala Influenza A jauh lebih berat dari flu biasa: demam tinggi mendadak di atas 38°C, nyeri otot berat, sakit kepala, dan kelelahan ekstrem.
Ini yang membuat 2026 berbeda. Ketiga faktor ini tidak berjalan sendiri:
Dampaknya: RS Bhayangkara Pontianak mencatat kenaikan ISPA dan pneumonia sebesar 10-20 persen sejak karhutla meluas di Kalimantan Barat.
Untuk Individu:
Untuk Keluarga:
Untuk Pemerintah:
Sumber: Data Kemenkes RI (Agustus-September 2026), BMKG, IDAI, dan laporan Detik Health per Oktober 2026.
Tinggalkan Komentar