

Anak-anakku yang hebat,
Ibu masih ingat wajahmu. Waktu Ibu bagikan hasil ulangan Trigonometri kemarin. Ada yang mukanya berseri-seri dapat 95. Ada yang nunduk dalam-dalam karena nilainya 45. Bahkan ada yang matanya berkaca-kaca menahan tangis.
Dan hari ini Ibu ingin bilang sesuatu yang mungkin tidak pernah dibilang guru lain: Untuk kamu yang dapat 40 hari ini, kamu KEREN.
Kok bisa?
Nilai 40 yang kamu dapat dari otakmu sendiri, dari perjuanganmu semalaman belajar meski pusing, itu adalah nilai yang 100% milikmu. Nilai itu jujur.
Sedangkan 90 yang kamu dapat karena melirik jawaban teman, karena buka HP diam-diam, itu bukan nilaimu. Itu nilai temanmu. Kamu hanya meminjam angka, tapi tidak meminjam kepintarannya.
Ingat ya, di raport angka 90 itu akan hilang setahun lagi. Tapi rasa bersalah dan kebiasaan curang itu akan menempel seumur hidupmu. Sampai nanti kamu kuliah, kerja, kamu akan terbiasa mencari jalan pintas.
OAnak-anak, coba Ibu tanya. Apakah ada bayi yang langsung bisa lari tanpa pernah jatuh? Tidak ada.
Matematika itu persis seperti itu.
Thomas Alfa Edison gagal 1000 kali sebelum lampu menyala. Matematikawan terbesar dunia juga menghabiskan puluhan halaman hanya untuk mencoret-coret kesalahan.
Jika kamu mengerjakan soal limit dan jawabanmu salah, otakmu sedang bekerja. Ia sedang mencatat, “Oh, cara ini ternyata buntu. Coba cara lain.” Itulah proses belajar yang sebenarnya.
Siswa yang takut salah, tidak akan pernah mencoba. Dia akan diam, menunggu contekan. Padahal, coretan salahmu di buku tulis jauh lebih mulia daripada kertas kosong yang mencontek.
Mulai hari ini, di kelas Ibu, Ibu akan mengubah aturan.
Ibu tidak akan lagi tanya “Siapa yang dapat 100?”.
Tapi Ibu akan tanya, “Siapa yang hari ini berani salah dan mau maju menjelaskan salahnya di papan tulis?”
Karena dari kesalahanmulah, seluruh kelas SMA 2 akan belajar. Satu kesalahan yang dibahas bersama, akan menyelamatkan 35 siswa lain agar tidak salah yang sama.
Jadi untuk kamu yang kemarin dapat 40, 50, 60 – Jangan hapus coretan salahmu. Jangan sobek kertas ulanganmu. Bawa ke Ibu. Kita bedah bersama. Di situlah kepintaranmu yang sesungguhnya sedang tumbuh.
Untuk Penutup, Pesan Ibu:
Anakku, hidup setelah SMA 2 nanti tidak ada kunci jawabannya di Google.
Kamu akan gagal wawancara kerja, gagal ujian masuk PTN, gagal dalam cinta. Itu semua wajar.
Tapi jika sejak di SMA kamu sudah terbiasa jujur dengan kesalahan kecil di Matematika, kamu akan menjadi orang dewasa yang kuat. Yang tidak takut gagal, dan tidak butuh topeng.
Di kelas Matematika SMA Negeri 2 Semarang, kita tidak mencari siapa yang paling pintar. Kita mencari siapa yang paling berani jujur dan berani mencoba.*
Tetap semangat. Nilai 40 hari ini, bisa jadi 90 di ujian berikutnya, jika kamu tidak berhenti.
Nilai itu hanya angka. Kejujuran dan keberanianmu itu yang abadi.
Salam sayang,
*Ibu Guru matematikamu
Tinggalkan Komentar