
Dulu, saya termasuk guru muda yang kalau ada program baru – Kurikulum Merdeka, Platform Merdeka Mengajar, e-Kinerja, Projek P5 – langsung antusias 100%. Buat grup, buat Canva, share link. Semangat meledak-ledak.Menjelang pensiunsaya membaca kalimat itu berkali kali . Dan jujur, saya merasa tertampar.
Lalu saya lihat guru senior di pojok ruang guru. Tenang. Tidak banyak komentar. Hanya mengangguk, mencatat sedikit. Dalam hati saya sempat menghakimi: “Beliau kurang semangat ya, sudah nyaman di zona aman.”
Ternyata saya yang salah. Waktu yang mengajari saya.
Semakin lama menjadi guru, saya sadar: diamnya mereka bukan karena tidak peduli. Diamnya mereka adalah bentuk kedewasaan. Bentuk self preservation agar tetap bisa mengajar dengan waras dan penuh cinta sampai pensiun.
Ada 4 hal yang kini saya pahami dari diamnya guru senior:
1. Diam Bukan Berarti Tidak Tahu, Tapi Tahu Kapan Harus Bicara.
Guru muda bicara karena ingin terlihat tahu. Guru senior diam karena sudah tahu bahwa tidak semua hal perlu dikomentari sekarang.
Mereka sudah melihat siklus perubahan datang dan pergi. Kurikulum berganti 5-6 kali. Program A muncul tahun ini, hilang tahun depan. Mereka belajar untuk tidak reaktif pada setiap gelombang. Mereka menunggu, mengamati, melihat mana yang benar-benar esensi untuk siswa, bukan sekadar administratif.
Itu bukan apatis. Itu kebijaksanaan. Seperti padi, semakin berisi semakin merunduk.
2. Mereka Sedang Menjaga Energi, Bukan Kehilangan Energi.
Guru muda punya energi 100 untuk 1 hal. Guru senior punya energi 100 untuk 20 hal: mengajar 24 jam, jadi wali kelas, urus anak di rumah, jaga orang tua yang sakit, dan tetap harus tersenyum di kelas.
Jika mereka terlihat tidak ikut semua lomba, semua pelatihan, semua kepanitiaan, bukan karena malas. Mereka sedang mengatur napas. Mereka tahu, jika semua diambil, yang jadi korban adalah kualitas mengajarnya di depan kelas dan kewarasannya di rumah.
Diam mereka adalah cara mereka bilang: “Saya ingin tetap kuat sampai garis finish, jadi saya harus memilih perang mana yang harus saya menangkan.”
3. Di Balik Diam Itu Ada Luka dan Perjuangan yang Tidak Pernah Kita Lihat.
Kita melihat mereka tenang sekarang. Kita tidak melihat mereka dulu pernah begadang sampai jam 2 malam menulis RPP tulisan tangan berlembar-lembar. Pernah dimarahi kepala sekolah, pernah menangis karena siswa yang dibinanya gagal, pernah mengajar tanpa sertifikasi dengan gaji yang tidak seberapa.
Ketenangan itu mahal harganya. Dibayar dengan jam terbang, air mata, dan keikhlasan bertahun-tahun. Wajar jika sekarang mereka lebih tenang. Badai yang lebih besar sudah mereka lewati.
Jawa mengatakan: Meneng iku emas. Diam itu emas. Bukan kosong, tapi penuh makna.
4. Mereka Menjaga Diri Agar Tetap Mencintai Profesi Ini.
Ini yang paling menghantam saya. Banyak guru senior yang saya temui masih mencintai muridnya dengan cara yang sangat dalam. Masih ingat nama murid angkatan 10 tahun lalu. Masih menyimpan surat dari siswa.
Bagaimana mereka bisa tetap mencintai profesi yang melelahkan ini selama 25-30 tahun? Salah satu rahasianya adalah: mereka menjaga jarak dari kebisingan yang tidak perlu.
Mereka tidak ikut gosip di grup WA. Tidak ikut komentar pedas tentang kebijakan. Mereka pilih fokus ke yang bisa mereka kontrol: 1 papan tulis, 36 murid di depannya.
Diamnya adalah perisai. Agar hatinya tidak terkuras oleh hal-hal di luar kelas, sehingga cintanya tetap utuh untuk di dalam kelas.
Penutup untuk Saya dan Guru Muda Lainnya
Bu, Pak, untuk kita guru muda SMA Negeri 2…
Jika hari ini kita melihat guru senior kita diam, jangan buru-buru menghakimi. Dekati. Tanyakan, “Bu, menurut Ibu, dari pengalaman Ibu, bagian mana dari program ini yang paling penting untuk anak-anak?”
Kita akan terkejut dengan jawabannya. Jawaban yang tidak ada di Google, tidak ada di Canva, tidak ada di AI.
Karena akhirnya saya mengerti:
Guru muda mengajar dengan semangat.
Guru senior mengajar dengan kearifan.
Sekolah yang hebat butuh keduanya.
Mari kita belajar tidak hanya menjadi guru yang bersemangat, tapi juga guru yang kuat dan tahan lama, seperti mereka.
Hormat saya untuk semua guru senior SMA 2 Semarang. Terima kasih sudah mengajarkan kami arti diam yang kuat.
Tinggalkan Komentar