

Catatan Seorang Guru Matematika SMA Negeri 2 Semarang
Dua minggu lalu, saya memberikan soal kelas 12 ini di papan tulis:
Sederhanakan: (2x+3)(x-2) – x²= …
Saya kira, 10 menit selesai. Ternyata 25 menit berlalu, hampir separuh kelas masih diam. Ada yang masih salah hitung 2x.x Ada yang bingung +3 x -2 hasilnya minus apa plus. Ada yang menulis x²–x² = 2x²
Saat itu saya terdiam. Ini anak kelas 12. Anak-anak yang 3 bulan lagi akan ikut UTBK, SNBT, masuk PTN. Tapi Aljabar kelas 8 bolong.
Dan saya sadar, ini bukan salah mereka. Ini adalah Tagihan Corona yang baru datang 4 tahun kemudian.
Akar Masalahnya: Generasi yang Hilang di Kelas 8 dan 9
Anak-anak kelas 12 tahun 2026 ini adalah anak-anak yang mengalami Corona saat mereka kelas 8 dan 9 SMP. Masa paling krusial pembentukan Aljabar.
Coba kita jujur mengingat:
Nyatanya saat itu: Guru kirim foto di WA, siswa jawab “Siap Bu”, kamera mati, sinyal hilang. Yang penting absen. Tidak ada yang berani tanya “Bu, kenapa minus ketemu minus jadi plus?” karena malu ditertawakan di grup.
Mereka pintar menggunakan aplikasi, jago membuat video, tapi lemah dalam hal paling dasar: menghitung -3 – (-5) .
Lalu Kita Harus Bagaimana? Memarahi Tidak Akan Menambal Lubang.
Sebagai guru di SMA Negeri 2 Semarang, saya berhenti menyalahkan. Saya mulai menambal.
Ini 3 hal yang saya lakukan di kelas dan boleh Bapak/Ibu guru lain coba:
Contoh: Faktorkan x² – 9 sederhanakan (6x²)/(3x). Tidak saya nilai, tapi saya apresiasi. Awalnya mereka malu, lama-lama mereka sadar, “Oh iya, saya lupa ini toh.”
Sejak saya bilang itu, saya melihat mata mereka berubah. Dari rasa malu, menjadi rasa berjuang. Mereka berani salah lagi.
Anak kelas 12 sekarang bukanlah generasi manja. Mereka adalah generasi penyintas.
Mereka pernah sekolah tanpa sekolah, naik kelas tanpa paham, ujian tanpa diawasi.
Tugas kita bukan lagi menuntut mereka harus langsung bisa Kalkulus. Tugas kita adalah menjadi tukang tambal yang sabar. Menambal fondasi aljabar mereka yang bolong, satu per satu, dengan kasih sayang.
Karena jika fondasinya tidak kita tambal sekarang, gedung setinggi apapun yang mereka bangun untuk UTBK nanti, akan mudah runtuh.
Mari kita mulai dari yang dasar lagi. Tidak apa-apa. Tidak ada kata terlambat.
Salam dari,
Guru MTK SMA Negeri 2 Semarang yang masih terus belajar menambal.
Tinggalkan Komentar