
Kolaborasi Guru Muda dan Guru Senior
Fenomena di Ruang Guru
Pernah dengar bisikan ini di ruang guru?
“Pakai PPT begitu saja kok lama banget, sini saya yang klik-kan.”
“Mana bisa pakai Canva, beliau kan gaptek.”
Kita tidak bisa pura-pura tidak ada. Di banyak SMA, termasuk di sekolah kita, ada jarak tak terlihat antara guru muda yang lincah dengan teknologi dan guru senior yang kaya dengan pengalaman. Guru muda dengan kecepatan, guru senior dengan kedalaman.
Masalahnya bukan di teknologinya. Masalahnya adalah ketika kecepatan dianggap lebih hebat dari kedalaman.
1. Kenapa Guru Muda Sering Terpeleset Memandang Rendah?
Bukan karena sombong, tapi karena 3 jebakan ini:
a. Jebakan Kompetensi Sempit: Kita mengukur kehebatan guru hanya dari satu indikator: jago IT. Padahal mengajar itu bukan lomba bikin slide animasi. Bisa membuat Kahoot dalam 5 menit tidak otomatis membuat siswa paham materi eksponen selama 5 tahun.
b. Jebakan Instant Result: Guru muda terbiasa dengan yang instan – Google, AI, template. Sementara guru senior terbiasa dengan proses yang lama – memahami karakter siswa, membangun wibawa, meredam konflik di kelas. Yang instan terlihat keren, yang lama terlihat kuno.
c. Lupa Bahwa Kita Pernah Gaptek Juga: Dulu kita juga pernah bingung mengisi RPP Kurikulum Merdeka pertama kali. Guru senior pernah melewati masa itu, jauh sebelum ada YouTube tutorial.
2. Padahal, Yang Tidak Dimiliki Guru Muda Ada di Guru Senior
Coba jujur, berapa banyak dari kita guru muda yang bisa:
Itu tidak diajarkan di pelatihan Canva atau ChatGPT. Itu jam terbang. 15, 20, 25 tahun berdiri di kelas.
Teknologi bisa bikin materi terlihat menarik. Tapi pengalamanlah yang bikin materi itu melekat di hati siswa.
3. Istilah “Gaptek” Itu Sebenarnya Tidak Tepat
Yang sering kita sebut gaptek itu biasanya bukan tidak mampu, tapi:
Mereka bukan tidak mau belajar. Mereka hanya butuh diajak, bukan diejek.k
4. Solusi Manis untuk SMA Negeri 2: Gerakan #SalingIsi
Bagaimana kalau kita balik skenarionya? Bukan senior vs junior, tapi kolaborasi:
Program 1: Ngopi 15 Menit – Tukeran Ilmu
Setiap Jumat, 15 menit setelah briefing. Guru muda ajari 1 fitur: “Bu, cara bikin QR presensi begini.” Lalu guru senior balas 1 ilmu: “Dik, kalau ada siswa tidur di kelas jam terakhir, jangan dibentak, begini caranya…”
Program 2: Aturan Emas di Grup WA Sekolah
Sepakat: Tidak ada screenshot yang mempermalukan cara mengajar orang lain. Kalau mau bantu, japri. Jaga martabat.
Program 3: Tim Tandem Mengajar
Satu RPP, dua kepala. Guru muda siapkan media interaktifnya, guru senior perkaya studi kasus dan manajemen kelasnya. Hasilnya pasti lebih dahsyat dari kerja sendirian.
Sekolah hebat bukan sekolah yang semua gurunya jago teknologi. Sekolah hebat adalah sekolah di mana guru yang jago teknologi mau menunduk untuk belajar kesabaran, dan guru yang sabar mau membuka diri untuk belajar teknologi.
Guru muda adalah masa depan sekolah. Guru senior adalah akar sekolah. Tanpa akar, masa depan itu rapuh. Tanpa tunas baru, akar itu mati.
Mari kita jadi generasi guru yang cepat jarinya, tapi juga dalam hatinya.
Salam kolaborasi,
Guru SMA Negeri 2 Semarang
Tinggalkan Komentar