
Coba kita lihat bersama.
Di gerbang depan sekolah kita, di tembok lobi, di mading kelas, terpampang tulisan besar, berwarna-warni, indah sekali:
“BUDAYAKAN 3S: SENYUM, SALAM, SAPA”
Tulisannya besar, tapi praktiknya kecil. Bahkan nyaris hilang.
Realitanya hari ini di sekolah-sekolah, termasuk mungkin di sekolah kita:
Kita hebat membuat slogan.
Kita rajin mencetak poster.
Tapi kita malas melaksanakannya.
Akhirnya 3S hanya menjadi hiasan dinding, bukan hiasan hati.
Sekolah terlihat megah, tapi terasa dingin dan kaku.
Mengapa 3S ini menjadi sangat penting?
Karena 3S adalah pendidikan karakter yang paling murah tapi paling mahal nilainya.
Senyum adalah bahasa universal.
Senyum guru kepada murid artinya:
“Ibu hadir untukmu, jangan takut.”
Senyum murid kepada guru artinya:
“Terima kasih telah mengajariku.”
Satu senyum bisa membuat otak yang tegang karena matematika menjadi rileks.
Assalamualaikum, Selamat Pagi.
Di dalamnya ada doa keselamatan.
Jika setiap pertemuan diawali doa, maka sekolah kita penuh berkah.
Murid belajar menghormati yang lebih tua, guru belajar menghargai yang lebih muda.
“Pagi Dito, bagaimana PR-nya?”
“Pagi Bu, sehat Bu?”
Sapaan sederhana itu membuat siswa merasa diakui, merasa ada.
Tidak ada lagi anak yang merasa invisible atau tidak dianggap di sekolah sendiri.
Sekolah jadi seperti rumah kedua.
SMA Negeri 2 Semarang akan menjadi sekolah yang hangat, ramah, dan penuh kekeluargaan.
Prestasi akan naik karena hati bahagia.
Datang, belajar, pulang, tanpa kehangatan.
Guru dan murid seperti robot yang tidak punya hubungan batin.
Merasa tidak perlu orang lain.
Tidak punya adab dan etika.
Karena tidak saling sapa, maka tidak saling kenal.
Karena tidak saling kenal, maka mudah saling benci.
Bagaimana ilmu mau berkah jika bertemu gurunya saja tidak mau mengucap salam?
Bapak/Ibu guru dan anak-anakku yang hebat.
Mari kita hidupkan kembali 3S ini, bukan hanya di tulisan, tapi di tindakan.
Mulailah dari kita.
Kita yang menyapa duluan.
Jangan menunggu disapa murid.
Berikan senyum duluan saat masuk kelas.
Murid akan meniru apa yang kita lakukan, bukan apa yang kita tulis.
Jadilah pelopor.
Jika bertemu guru, siapapun gurunya, mengajarimu atau tidak, berhentilah sejenak, berikan senyum dan ucapkan:
“Selamat Pagi Bu/Pak.”
Itu tidak membuatmu rendah.
Itu justru membuatmu terlihat berkarakter dan beradab.
Mari kita buat perjanjian.
Mulai hari ini, tidak ada lagi kepala yang menunduk saat berpapasan.
Tegakkan kepala.
Berikan senyum terbaikmu.
Kepintaran akan membawamu sampai ke gerbang SMA Negeri 2 Semarang, tapi Senyum, Salam, Sapa lah yang akan membawamu diterima di mana saja seumur hidupmu.
Mari jadikan ia budaya di hati kita.
Mari kita buat SMA Negeri 2 Semarang bukan hanya unggul dalam prestasi,
Tinggalkan Komentar