
Aku bukan donat sembarang donat. Aku bulat, empuk, bertabur gula di punggungku. Kemarin aku masih duduk manis di etalase toko roti, bermimpi ingin jadi yang paling cantik. Pagi ini, sebuah tangan mungil memilihku.
Dan dimulailah perjalanan suciku.
1. Gerbang Pertama: Mulut
Aku masuk ke sebuah gua yang hangat dan basah. Namanya Mulut.
Belum sempat aku mengagumi dinding-dinding merah jambunya, dua barisan prajurit putih bernama Gigi Giling langsung menyambutku. Mereka tidak kejam, mereka bertugas.
Krak. Krak.
Tubuhku remuk. Mahkotaku yang cantik hancur berantakan. Aku menjerit, tapi lalu datanglah hujan hangat bernama Liur. Dia memeluk serpihan-serpihanku, berbisik, “Jangan takut, ini adalah cara mencintai.”
Dia adalah Enzym Amilase, sang penerjemah pertama. Dia membisik ke gulaku, “Kau akan jadi tenaga.” Aku yang tadinya utuh, kini menjadi bubur manis yang siap mengabdi.
2. Seluncuran Aesophagus
Aku meluncur. Bukan jatuh, tapi didorong lembut oleh ombak otot bernama Gerak Peristaltik.
Aesophagus adalah lorong licin dan gelap, seperti seluncuran air di taman rahasia. Dindingnya memijatku dari atas ke bawah, berkata, “Turunlah, ada tugas yang lebih mulia menantimu di bawah.” Sepuluh detik, singkat, namun terasa khidmat. Seperti perpisahan dari dunia luar.
3. Kawah Candradimuka: Lambung
Aku tiba di sebuah kawah besar yang bergolak. Lambung.
Jika Mulut tadi hangat, di sini adalah lautan asam yang mendidih. Aku takut. Tapi Lambung bukanlah monster. Ia adalah seorang Pandai Besi yang bijaksana.
“Selamat datang, Dona kecil,” katanya sambil mengaduk-adukku. Asam lambung dan Pepsin, para pekerjanya, meleburkan sisa keangkuhanku sebagai donat. Lemakku, tepungku, semua dipisahkan, diuleni, diremas selama berjam-jam.
Di sini aku benar-benar hancur. Tak ada lagi bentuk donat. Aku telah menjadi bubur pekat bernama Kimus. Aku menangis, karena aku kehilangan diriku. Lalu aku paham, untuk menjadi berarti, aku memang harus kehilangan bentukku.
4. Pertemuan Cahaya: Usus Dua Belas Jari
Dari kawah yang ganas, aku mengalir ke sebuah aula terang. Usus Dua Belas Jari. Duodenum.
Di sini, aku disambut dua bangsawan dari kerajaan tetangga: Empedu dari Hati, hijau keemasan, dan Getah dari Pankreas.
Empedu berkata pada lemakku yang keras kepala, “Hai yang berminyak, mari kubuat kau menjadi butiran debu agar mudah dicintai tubuh.” Ia memecah lemakku menjadi kepingan-kepingan halus.
Aku yang tadinya berat dan berminyak, kini menjadi ringan.
5. Jalan Panjang Pengabdian: Usus Kosong dan Usus Penyerapan
Inilah jalan terpanjang dalam hidupku. Bermeter-meter.
Usus Kosong – Jejunum, adalah hamparan padang beludru. Dindingnya penuh dengan ribuan jari-jari halus bernama Vili, yang melambai-lambai seperti rumput ilalang yang haus.
Saat aku lewat, mereka memelukku. Satu persatu, bagian terbaik dari diriku diambil. Gulaku diambil menjadi energi untuk mata yang membaca, untuk kaki yang berjalan. Protein ku diambil menjadi batu bata untuk luka yang sembuh.
Aku semakin menipis, semakin habis. Tapi aneh, semakin habis aku, semakin bahagia aku.
Lalu aku sampai di Usus Penyerapan – Ileum, penjaga terakhir. Di sini, sisa vitamin, garam, dan cinta terakhir dari diriku dipungut habis. Vili di sini lebih teliti, tidak membiarkan satu kebaikan pun terlewat.
Aku berbisik, “Ambillah semua.”
6. Samudra Penutup: Usus Besar
Aku yang tersisa kini hanyalah ampas, serat yang tidak bisa dicerna. Aku mengalir ke samudra yang lebih tenang dan lebar, Usus Besar.
Di sini tidak banyak yang diambil dariku lagi, tapi aku ditemani oleh miliaran penghuni kecil, bakteri baik. Mereka berpesta dengan sisa seratku, membuat vitamin untuk tuannya.
Di sini aku belajar, bahkan sisa-sisaku pun masih berguna.
7. Gerbang Perpisahan: Rektum dan Anus
Akhirnya, aku tiba di ruang tunggu terakhir, Rektum. Sebuah ruangan yang hening. Aku menunggu.
Aku tidak lagi sedih. Aku bukan lagi donat cantik bertabur gula. Aku adalah sebuah perjalanan yang telah selesai.
Dan di ujung lorong, Anus, sang penjaga gerbang akhir, membukakan pintu untukku dengan lembut.
Aku keluar. Terbuang. Bagi dunia, aku adalah kotoran.
Tapi bagi tubuh yang kutinggali, aku telah menjadi detak jantung, menjadi hangatnya pelukan, menjadi kekuatan untuk seorang anak menulis cerita tentang orang tuanya, menjadi tenaga untuk berdoa agar diberi husnul khotimah.
Aku Dona, sepotong donat. Aku hancur, agar ia bisa utuh.
Tinggalkan Komentar