
Siapa bilang belajar Bahasa Jawa itu kuno dan membosankan? Di SMA Negeri 2 Semarang, Ibu Triyas Erna Erawati, S.Pd., M.Pd., justru membuktikan sebaliknya. Melalui materi “Pawarta” (berita dalam bahasa Jawa) untuk kelas X, ia mengajak siswa untuk tidak sekadar membaca, tetapi juga membedah, menganalisis, dan menyampaikan berita layaknya jurnalis profesional—tentu dengan unggah-ungguh basa Jawa yang santun.
Tujuan pembelajarannya jelas: siswa diharapkan mampu memahami, menganalisis, dan menyusun teks pawarta dalam bahasa Jawa dengan memperhatikan struktur, unsur berita (5W+1H), serta penggunaan bahasa yang tepat.
Yang menarik, pembelajaran ini juga dikaitkan dengan literasi informasi. Di era banjir hoaks seperti sekarang, kemampuan memfilter berita bohong menjadi keterampilan hidup yang sangat penting. Melalui pawarta, siswa belajar untuk jujur, objektif, dan bertanggung jawab dalam menyampaikan informasi.
Siapa sangka, pembelajaran dimulai dengan permainan seru? Guru mengajak siswa melakukan ice breaking bernama “Wartawan Bisik-Bisik” . Lima siswa berdiri berbanjar, lalu guru membisikkan kalimat berbunyi mirip kepada siswa terdepan:
“Kala wingi, Kulon Progo kisenan kulak kolang-kaling kang kaloka.”
Kalimat itu dibisikkan berantai hingga siswa terakhir membacakan hasilnya dengan lantang. Hasilnya? Kalimat yang berubah dan mengundang tawa!
Dari permainan ini, guru mengaitkan makna: “Yen ngrungokake pawarta ora fokus lan ora adhedhasar fakta, isine bakal malih dadi hoax.” Pesan yang sederhana, tetapi mengena!
Di kegiatan inti, siswa tidak hanya mendengarkan ceramah. Mereka diajak untuk menjadi wartawan muda yang melakukan investigasi!
Dengan pendekatan Inquiry-Based Learning, siswa:
Guru berperan sebagai fasilitator, membimbing siswa untuk mindful collaboration—menghargai porsi bicara setiap anggota kelompok.
Setelah memahami konsep, siswa diminta untuk mencari topik peristiwa aktual di lingkungan sekolah, lalu menyusunnya menjadi teks pawarta sederhana. Tidak berhenti di situ, mereka juga berlatih membacakan pawarta di depan kelas dengan memperhatikan:
Ini adalah simulasi dunia kerja yang sesungguhnya—bukan hanya belajar bahasa, tetapi juga belajar berkomunikasi dengan percaya diri.
Pembelajaran ini juga menerapkan pendekatan holistik (pembelajaran mendalam) :
Di akhir pembelajaran, siswa diminta menuliskan jurnal refleksi tentang perasaan mereka: apakah bahagia, kesulitan membaca teks Jawa, atau bangga bisa menggunakan ragam bahasa krama.
Guru juga memberikan apresiasi berupa standing applause atau predikat “Kelompok Redaksi Ter-Kritis” —sebuah penghargaan sederhana yang membuat pembelajaran semakin bermakna.
Apa yang dilakukan Ibu Triyas Erna Erawati dan para siswa kelas X adalah bukti bahwa Bahasa Jawa bisa diajarkan dengan cara yang modern, relevan, dan menyenangkan. Pawarta bukan sekadar materi hafalan—ia adalah jendela dunia yang melatih siswa untuk berpikir kritis, berbahasa santun, dan menyampaikan informasi dengan bertanggung jawab.
Di era globalisasi seperti sekarang, kemampuan berbahasa Jawa sekaligus memahami literasi informasi adalah bekal hidup yang tak ternilai. Mari terus nguri-uri basa lan budaya, karena generasi yang cerdas adalah generasi yang mampu menghargai akar budayanya.
Sampun siyap dados wartawan muda?
Tinggalkan Komentar