
Maret 2020.
Kita masih ingat hari itu.
Surat edaran turun mendadak:
“Semua siswa belajar dari rumah.”
Gerbang sekolah yang biasanya ramai jam 06.30, tiba-tiba sepi.
Lapangan upacara kosong.
Papan tulis berdebu.
Lonceng sekolah tidak berbunyi selama hampir 2 tahun.
Pandemi Corona bukan hanya menyerang kesehatan, tapi juga mengguncang dunia pendidikan Indonesia secara total.
Dari Sabang sampai Merauke, dari SD sampai SMA, semua dipaksa pindah dari ruang kelas ke ruang Zoom.
Kita dipaksa belajar cara baru yang belum pernah kita siapkan.
Lalu apa dampaknya?
Ternyata ada luka, tapi juga ada hikmah.
Ini dampak paling berbahaya.
Siswa naik kelas, tapi tidak paham materi.
Murid kelas 12 tapi kemampuan matematikanya masih kelas 10.
Karena saat online, banyak yang hadir hanya formalitas, kamera mati, sambil tidur atau main game.
Efek ini masih kita rasakan di tahun 2026.
Seperti yang sering Ibu sampaikan:
Dampak “Tidak Boleh Menyanyi Indonesia Raya” dan “Senyum Salam Sapa” yang hilang.
Selama online, siswa tidak belajar disiplin, tidak belajar menghormati guru secara langsung, tidak belajar bersosialisasi.
Muncul generasi yang canggung, pemalu, dan individualis.
Di kota seperti Semarang mungkin lancar internet.
Tapi di daerah pelosok?
Banyak siswa harus naik ke atas bukit mencari sinyal, berbagi 1 HP dengan 3 saudara.
Pendidikan yang seharusnya merata, menjadi tidak adil.
Yang kaya makin pintar karena punya fasilitas, yang miskin makin tertinggal.
Guru stres harus belajar teknologi dadakan, membuat video pembelajaran sampai malam.
Siswa stres karena tugas menumpuk di WA Group, tidak ada teman bermain, jenuh menatap layar.
Kalau tidak ada Corona, mungkin sampai hari ini banyak guru yang gagap teknologi.
Corona memaksa kita semua belajar.
Sekarang Bapak/Ibu guru SMA Negeri 2 Semarang sudah jago membuat PPT interaktif, Quizizz, Google Classroom, Zoom.
Siswa juga lebih kreatif mencari sumber belajar di YouTube, bukan hanya dari buku.
Dulu belajar harus di kelas.
Sekarang kita tahu, belajar bisa dari mana saja.
Muncul metode-metode baru yang menyenangkan.
Pembelajaran tidak lagi membosankan.
Selama anak belajar di rumah, orang tua akhirnya tahu:
“Oh ternyata sulit ya jadi guru.”
Hubungan orang tua dan anak serta orang tua dan sekolah menjadi lebih dekat dan saling menghargai.
Dulu banyak siswa yang malas ke sekolah.
Setelah 2 tahun di rumah, baru terasa rindu.
Rindu upacara.
Rindu jajan di kantin.
Rindu dimarahi guru.
Kita akhirnya sadar:
Sekolah bukan hanya tempat mencari ilmu, tapi tempat mencari kehidupan.
Bapak/Ibu dan anak-anakku siswa SMA Negeri 2 Semarang.
Corona sudah pergi, tapi pelajarannya jangan ikut pergi.
Jangan sampai dampak negatifnya kita pelihara terus.
Jangan lagi ada alasan:
“Dulu kan boleh tidak menyanyi.”
“Dulu kan boleh kamera mati.”
Masa itu sudah selesai.
Tidak ada kata terlambat untuk mengejar ketertinggalan.
Rajin membaca.
Berani bertanya.
Fokus di kelas.
Mari kita bersama-sama mengejar kembali apa yang sempat tertinggal.
Pertahankan sisi positifnya.
Tetap gunakan teknologi untuk membuat pelajaran asyik, tetapi jangan tinggalkan sentuhan hati dan karakter tatap muka yang tidak bisa digantikan oleh Zoom.
Teknologi membantu pembelajaran.
Tetapi hubungan manusia tetap menjadi bagian penting dari pendidikan.
Hargai setiap detik kalian bisa duduk di kelas SMA Negeri 2 Semarang ini.
Banyak teman kalian di luar sana yang kehilangan 2 tahun masa indah SMA-nya karena Corona.
Kalian yang sekarang ada di sini adalah:
Mari kita jadikan Corona sebagai guru terbaik.
Ia mengajarkan kita bahwa:
Pendidikan itu sangat berharga.
Dan:
Sekolah adalah tempat yang paling dirindukan saat ia hilang.
Jangan sia-siakan kesempatan belajar tatap muka yang sudah Tuhan kembalikan ini.
Tinggalkan Komentar