
Malas sering dimaknai sebagai sikap tidak mau melakukan sesuatu, menunda-nunda pekerjaan, atau tidak disiplin.
Namun, bagaimana jika malas sebenarnya bukan semata-mata sebuah perilaku buruk?
Bisa jadi, malas merupakan pesan atau sinyal dari jiwa bahwa sedang terjadi sesuatu di dalam diri kita.
Setidaknya ada dua kemungkinan kondisi jiwa ketika seseorang sedang merasa malas.
Ada kalanya seseorang merasa malas, tetapi sebenarnya tidak nyaman dengan kemalasannya sendiri.
Ia ingin melakukan sesuatu, tetapi tidak tahu harus memulai dari mana. Ia memiliki waktu dan kesempatan, tetapi tidak memiliki dorongan yang cukup kuat untuk bergerak.
Dalam kondisi seperti ini, rasa malas dapat menjadi sebuah sinyal bahwa ada sesuatu yang perlu diperiksa kembali dalam arah jiwa, seperti:
Ketika hal tersebut terjadi, mungkin yang dibutuhkan bukan sekadar memaksa diri untuk bergerak, tetapi berhenti sejenak untuk menemukan kembali arah yang paling kuat dalam diri.
Salah satu arah terkuat tersebut dapat berupa bakat dan potensi diri.
Ketika seseorang mulai menemukan sesuatu yang sesuai dengan bakat, minat, dan potensi dirinya, biasanya akan muncul kembali dorongan untuk berkarya.
Ia bisa mulai terdorong untuk:
menulis, berbicara, berpikir, mencipta, atau melakukan sesuatu.
Pada titik tersebut, rasa malas yang sebelumnya menjadi sinyal kehilangan arah perlahan dapat berkurang.
Namun, ada kondisi yang berbeda.
Ada orang yang merasa nyaman dengan keadaan diam, berpikir, merenung, dan berimajinasi. Ia tidak merasa terganggu dengan keadaan tersebut.
Bahkan, dari “kemalasannya” itu justru muncul berbagai gagasan, inspirasi, dan karya.
Dalam kondisi seperti ini, kita perlu berhati-hati dalam memberikan label bahwa seseorang sedang malas.
Sebab, bisa jadi ia sedang berada dalam proses kreatif yang tidak selalu terlihat dari luar.
Ada orang yang tampak diam, tetapi pikirannya sedang bekerja.
Ada yang terlihat tidak melakukan apa-apa, tetapi sebenarnya sedang menyusun gagasan.
Ada pula yang membutuhkan waktu untuk merenung sebelum menghasilkan sesuatu.
Pertanyaan menariknya:
Apakah ada bakat yang membuat seseorang terlihat seperti malas?
Ada kecenderungan bakat atau karakter tertentu yang membuat seseorang lebih banyak diam, berpikir, merasakan, dan berimajinasi.
Dalam pandangan tertentu, hal ini dapat dikaitkan dengan kecenderungan seperti “berperasaan” atau “ego rendah individual”.
Misalnya:
Terlihat diam dan seperti tidak melakukan apa-apa, padahal sedang mencari inspirasi untuk sebuah karya.
Terlihat termenung cukup lama, padahal sedang mencari kata-kata yang tepat untuk menyampaikan gagasannya.
Mungkin tampak melamun, tetapi pikirannya sedang merangkai kata dan perasaan menjadi sebuah karya.
Terlihat belum mulai bekerja, padahal sedang membayangkan bentuk, komposisi, dan konsep visual yang ingin dibuat.
Dalam keadaan seperti itu, “malas” mungkin bukan tujuan akhirnya.
Malas hanyalah efek samping dari sebuah proses berpikir dan berkarya.
Ketika ide tersebut akhirnya diwujudkan menjadi tulisan, ucapan, desain, karya seni, atau tindakan nyata, kita dapat melihat bahwa di balik diamnya ternyata ada sebuah proses.
Ada jenis “malas” yang mungkin terlihat berbeda dari luar.
Seseorang duduk diam.
Tidak banyak berbicara.
Tidak terlihat sibuk.
Tetapi pikirannya sedang berjalan ke berbagai arah.
Ia sedang mencari ide.
Ia sedang membangun imajinasi.
Ia sedang menghubungkan berbagai hal.
Kemudian, dari proses tersebut lahirlah sebuah karya.
Itulah “malas” yang menghasilkan sesuatu.
Namun, tentu saja tidak semua kemalasan dapat dibenarkan dengan alasan kreativitas.
Rasa malas perlu mendapat perhatian ketika berlangsung terus-menerus dan tidak menghasilkan apa pun.
Tidak ada ide yang diwujudkan.
Tidak ada karya yang dihasilkan.
Tidak ada tindakan yang dilakukan.
Bahkan, aktivitas penting terus ditunda tanpa alasan yang jelas.
Jika keadaan tersebut berlangsung berlarut-larut, maka mungkin yang terjadi bukan lagi sekadar proses berpikir atau mencari inspirasi.
Kita perlu bertanya kepada diri sendiri:
“Sebenarnya apa yang sedang terjadi dalam diri saya?”
Apakah saya sedang kehilangan arah?
Apakah tujuan saya belum jelas?
Apakah saya sedang melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan diri saya?
Atau jangan-jangan saya hanya sedang nyaman berada di zona tanpa melakukan apa-apa?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat menjadi awal untuk memahami diri sendiri.
Ketika melihat seseorang sedang malas, jangan selalu terburu-buru memberikan label “pemalas”.
Bisa jadi ia sedang kehilangan arah dan membutuhkan waktu untuk menemukan kembali tujuannya.
Bisa juga ia sedang berada dalam proses berpikir dan mencari inspirasi.
Namun, bisa pula ia memang sedang terjebak dalam kebiasaan menunda dan tidak menghasilkan sesuatu.
Karena itu, lihatlah prosesnya, bukan hanya penampilannya.
Sebab, orang yang terlihat diam belum tentu tidak melakukan apa-apa.
Dan orang yang terlihat sibuk belum tentu sedang bergerak menuju arah yang benar.
Pada akhirnya, yang paling penting bukan sekadar apakah kita sedang malas atau tidak.
Yang lebih penting adalah:
Ke mana jiwa kita sedang bergerak?
Ketika arah itu jelas, kita akan lebih mudah menemukan alasan untuk bergerak.
Ketika bakat dan potensi mulai ditemukan, aktivitas yang sebelumnya terasa berat bisa menjadi sesuatu yang menyenangkan.
Dan ketika sebuah ide berhasil diwujudkan menjadi karya, kita akan memahami bahwa terkadang diam bukan berarti tidak melakukan apa-apa.
Namun demikian, diam harus memiliki tujuan dan kemalasan tidak boleh menjadi alasan untuk terus berhenti.
Ketika melihat orang malas, jangan buru-buru menghakimi.
Bisa jadi ia sedang menerima sinyal bahwa dirinya kehilangan arah.
Bisa jadi pula ia sedang berada dalam proses menemukan ide dan potensi terbaiknya.
Tetapi jika kemalasan terus berlarut-larut tanpa menghasilkan gagasan, karya, maupun tindakan, mungkin sudah saatnya ia kembali mencari arah.
Kenali dirimu. Temukan bakatmu. Tentukan arahmu. Lalu bergeraklah.
Wallahu a’lam.

Tinggalkan Komentar