
Belajar Kimia tidak selalu harus berkutat dengan rumus dan hafalan. Di kelas X SMA Negeri 2 Semarang, pembelajaran materi konfigurasi elektron dikemas melalui kegiatan diskusi, eksplorasi informasi, presentasi, dan pemecahan masalah secara berkelompok.
Kegiatan pembelajaran ini merupakan bagian dari pembelajaran Kimia Fase E Tahun Pelajaran 2026/2027, dengan materi pokok konfigurasi elektron, elektron valensi, orbital, serta hubungan konfigurasi elektron dengan golongan dan periode dalam sistem periodik unsur.
Konfigurasi elektron merupakan salah satu konsep penting dalam pembelajaran Kimia kelas X. Melalui materi ini, peserta didik diajak memahami bagaimana elektron tersusun dalam atom.
Pembelajaran dirancang agar siswa tidak hanya menerima penjelasan dari guru, tetapi juga aktif mencari informasi, berdiskusi, menganalisis permasalahan, dan menyampaikan hasil pemikirannya.
Model pembelajaran yang digunakan adalah Problem Based Learning (PBL) dengan pendekatan Deep Learning. Melalui model ini, peserta didik didorong untuk berpikir kritis, mandiri, berkomunikasi, dan berkolaborasi dalam menganalisis konfigurasi elektron berdasarkan model atom Bohr maupun teori mekanika kuantum.
Suasana kelas terlihat aktif ketika peserta didik bekerja dalam kelompok. Mereka membuka tabel periodik, mengerjakan LKPD, mencari informasi dari buku maupun internet, kemudian mengolah informasi yang diperoleh untuk menemukan jawaban atas permasalahan yang diberikan.
Salah satu pertanyaan pemantik dalam pembelajaran adalah:
“Bagaimana cara menggambarkan susunan elektron-elektron di dalam suatu atom yang terdapat pada sistem periodik unsur?”
Pertanyaan sederhana tersebut menjadi awal bagi siswa untuk mengeksplorasi konsep konfigurasi elektron secara lebih mendalam.
Menariknya, pembelajaran tidak berhenti pada kegiatan mengerjakan tugas. Setiap kelompok juga mendapatkan kesempatan untuk mempresentasikan hasil diskusinya, sementara kelompok lain memberikan tanggapan, pertanyaan, maupun tambahan informasi.
Dengan demikian, siswa belajar bukan hanya tentang Kimia, tetapi juga belajar mendengarkan, menyampaikan pendapat, bekerja sama, dan mempertanggungjawabkan hasil pemikirannya.
Pada pertemuan berikutnya, pembelajaran dilanjutkan dengan membahas konfigurasi elektron berdasarkan model atom kuantum.
Siswa kembali diajak mengamati tabel periodik dan berdiskusi mengenai bagaimana susunan elektron suatu atom dapat digambarkan berdasarkan teori kuantum. Materi kemudian berkembang pada pemahaman orbital dan bilangan kuantum.
Materi yang awalnya mungkin terasa abstrak menjadi lebih mudah dipahami ketika siswa terlibat langsung dalam proses mencari informasi dan memecahkan permasalahan bersama teman-temannya.
Pembelajaran ini juga memberikan ruang bagi pengembangan karakter peserta didik.
Dalam prosesnya, siswa tidak hanya dinilai berdasarkan jawaban benar atau salah, tetapi juga melalui aspek kreativitas, kerja sama, kemandirian, dan kemampuan bernalar kritis.
Keterampilan siswa dalam berdiskusi dan melakukan presentasi juga menjadi bagian penting dari proses pembelajaran. Siswa dilatih untuk aktif bertanya, menanggapi, menyampaikan ide, mengemukakan argumen, mengelola waktu presentasi, serta berpartisipasi dalam kerja kelompok.
Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran Kimia dapat menjadi sarana untuk membangun berbagai keterampilan yang dibutuhkan siswa dalam kehidupan sehari-hari.
Di akhir pembelajaran, siswa bersama guru melakukan refleksi terhadap proses yang telah berlangsung. Siswa diajak mengenali bagian yang sudah dipahami maupun bagian yang masih membutuhkan pembelajaran lebih lanjut.
Kegiatan refleksi menjadi bagian penting agar siswa tidak hanya mengetahui “berapa nilai saya?”, tetapi juga mampu menjawab pertanyaan “apa yang sudah saya pahami?” dan “bagian mana yang masih perlu saya pelajari?”.
Pembelajaran konfigurasi elektron di kelas X SMA Negeri 2 Semarang menjadi contoh bahwa konsep Kimia yang cukup abstrak dapat dipelajari melalui pengalaman yang aktif dan bermakna.
Dengan diskusi kelompok, pencarian informasi, pemecahan masalah, presentasi, dan refleksi, siswa mendapatkan kesempatan untuk menjadi bagian utama dari proses pembelajaran.
Karena belajar Kimia bukan hanya tentang memahami bagaimana elektron tersusun di dalam atom, tetapi juga tentang bagaimana siswa belajar berpikir, bekerja sama, berkomunikasi, dan menemukan solusi.
“Belajar bersama, berpikir kritis, berani berpendapat, dan terus bereksplorasi—itulah semangat pembelajaran Kimia kelas X!”
Dokumen pembelajaran yang mendukung :
LKPD Teori Atom Bohr : Link
Perencanaan Pembelajaran : Link
Tinggalkan Komentar